Agenda reformasi birokrasi memang sedang menjadi concern dalam 1 dekade terakhir. Kementerian Reformasi Birokrasi dan Pendayagunaan Aparatur Negara yang mempunyai hajat dalam penyelenggaraan reformasi birokrasi telah berupaya membuat birokrasi luwes dengan jamannya. regulasi terkait dengan reformasi birokrasi juga sudah terbentuk mulai dari Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi, Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJM 2004-2009) BAB 14 tentang penciptaan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dan UU NO. 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN 2005-2025) pada lampiran Bab IV.1.2, huruf E angka 35, menetapkan bahwa : ”Pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk mewujudkan tata pemerintahan yg baik, di pusat maupun di daerah”
Reformasi birokrasi ini menjadi penting untuk
dilakukan melihat track record birokrasi di Indonesia utamanya pada rezim
orde baru sebagai evaluasi dan pembelajaran pada era reformasi saat ini.
Mengulas singkat mengenai kondisi birokrasi saat orde baru dimana Pemerintahan
orde baru muncul ditopang
oleh tiga pilar kekuatan utamanya,yakni militer,golkar,dan birokrasi
pemerintahan. Ketiga pilar tersebut
merumuskan berbagai kebijakan politik ekonomi yang memiliki dimensi luas bagi
kehidupan masyarakat. Karakteristik utama birokrasi masa
orde baru adalah kuatnya penetrasi birokrasi pemerintah, sebagai representasi
kehadiran Negara ke
dalam kehidupan masyarakat.
Publik mengharapkan bahwa dengan terjadinya reformasi,
akan diikuti pula perubahan yang besar pada desain kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, baik yang menyangkut kehidupan politik, sosial,
ekonomi, maupun kultural. Perubahan struktur, kultur, dan paradigma birokrasi dalam
berhadapan dengan masyarakat menjadi begitu mendesak untuk segera dilakukan
mengingat birokrasi mempunyai kontribusi yang besar terhadap terjadinya krisis
multidimensional yang tengah terjadi sampai saat ini
Lalu kepemimpinan seperti apa yang dapat menjadi
nakoda dalam reformasi birokrasi? Di Indonesia dalam siklus pergantian
Presiden, dimana Presiden yang pernah menjabat tentunya mempunyai gaya
kepemimpinan masing-masing. Gaya kepemimpinan yang sudah umum kita ketahui
dapat dibedakan dimana ada gaya kepemimpinan otoriter, demokratis, dan bebas.
Dalam konsepsi Demokrasi di Indonesia sendiri, nampaknya gaya kepemimpinan yang
demokratislah yang mampu menjadi gaya kepemimpinan kekinian.
Berbicara mengenai reformasi birokrasi juga tidak
akan lepas dengan mereformasi kepemimpinan di dalam tubuh birokrasi itu
sendiri. Jabatan-jabatan politis yang didapatkan oleh mereka para pemimpin baik
di daerah maupun pusat harus dapat mengutamakan kepentingan publik dalam
konteks memimpin sebuah organisasi, bukan malah memanfaatkan jabatannya untuk
kepentingan pribadi atau golongan yang telah memenangkan kursi kekuasaan
untuknya. Gaya kepemimpinan demokratis ini akan memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan
sesuai job desc masing-masing.
Pemimpin-pemimpin yang demokratis dalam memecahkan permasalahan selalu
mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan
demokratis juga pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta
tanggung jawab para bawahannya.
Pemimpin-pemimpin saat ini
perlu untuk berbenah sebagai satu kesatuan dalam reformasi birokrasi.
Pemimpin-pemimpin alternatif dan antitesa terhadap pemimpin yang kaku kini
sedang digandrungi oleh masyarakat dimana kita selama berpuluh-puluh tahun
masuk dalam rezim otoriter. Pemimpin juga harus mampu mengakomodir
kepentingan-kepentingan publik pasca runtuhnya orde baru dimana ruang publik
saat ini semakin terbuka. Dengan semakin terbukanya ruang publik para pemimpin
juga harus tahan kritik dan berusaha untuk terus memperbaikinya.
Jika penulis gambarkan
kepemimpinan dan reformasi birokrasi ini sebagai satu kesatuan.yang tak
terpisahkan. Ibarat sebuah kapal sebagai suatu organisasi publik,Nakoda adalah
pemimpin organisasinya, dan awak kapal adalah birokratnya. Kapal tersebut
berlayar dari satu tempat ke tempat yang
lain, disini ada mobilisasi seperti sebuah tujuan organisasi itu juga bergerak
dari yang belum tercapai menuju pencapaian tujuan.







0 komentar:
Posting Komentar